Sejarah

Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga berdiri pertama kali pada 23 Desember 1977 dengan nama Fakultas Ilmu Sosial (FIS). Sosiologi adalah jurusan pertama dan satu-satunya yang berdiri di bawah Fakultas Ilmu Sosial. Kini FISIP telah menaungi tujuh jurusan program sarjana (S1) yaitu, Antropologi, Ilmu Politik, Komunikasi, Administrasi Negara, Hubungan Internasional, Ilmu Informasi dan Perpustakaan, dan Sosiologi. Program Pascasarjana (S2) ada lima program studi yakni, Sosiologi, Kebijakan Publik, Hubungan Internasional, Ilmu Politik dan Media Komunikasi. Program Studi Ilmu Sosial menjadi salah satu jurusan di Progam Doktor (S3) FISIP.

Awal berdiri, FISIP Unair yang masih bernama FIS hanya memiliki tujuh orang tenaga pengajar dan dua orang tenaga tetap. Pada tahun 1978, mahasiswa diterima untuk angkatan pertama hanya 62 orang. Kuliah pertama semester I tahun 1978 dimulai dan menjadi awal tantangan sesungguhnya dari sebuah proses perubahan besar di bidang akademik FISIP.

FISIP didirikan ketika masyarakat belum banyak yang paham tentang ilmu sosial. Sejak awal mula FIS didirikan dengan niat besar untuk mendayungkan inovasi di bidang pendidikan guna mengembangkan kegiatan belajar mengajar yang inkonvensional. Selain pembangunan dan penerapan apa yang disebut learning by objective, dan pula penggunaan diskusi kelompok-kelompok kecil sebagai salah satu cara belajar mahasiswa. FIS juga mengembangkan kemampuan mahasiswa untuk menulis dan untuk mendayagunakan informasi yang tersimpan di dalam kepustakaan dan perpustakaan.

Persetujuan pembukaan fakultas dinyatakan oleh Direktur Jendral Pendidikan Tinggi Departemen P&K pada tanggal 25 April 1978. Empat bulan setelahnya, Rektor memutuskan untuk mengganti bentuk personalia pimpinan Fakultas Ilmu Sosial. Bentuk pimpinan berubah bentuk dari Presidium menjadi Kedekanan. Dekan pertama FIS adalah Soetandyo Wignjosoebroto, MPA.

Kini FISIP telah berdiri selama tiga puluh delapan tahun, keterlibatan FISIP Unair dalam masalah kemasyarakatan mulai meningkat, antara lain dalam bentuk aksi-aksi mahasiswa yang melakukan pembelaaan terhadap kelompok masyarakat. Peran aktif FISIP tidak berjalan tanpa resiko. Dosen dan mahasiswa FISIP berulang kali harus berhadapan dengan berbagai intimidasi, terutama dari aparat-aparat represi Orde Baru, terbukti dengan hilangnya dua mahasiswa aktivis pada tahun 1997.

Dibangun diatas pondasi idealisme yang kuat dan rasa solidaritas yang kental, FISIP diibaratkan batu karang yang kokoh. Lebih dari sekedar lembaga pendidikan atau fakultas baru, FISIP adalah sebuah wacana alternatif yang menawarkan banyak hal: pembaharuan idealisme, tekad, kebenaran, sikap kritis dan keyakinan. Di tengah suasana yang didominasi kepentingan dan kekuasaan yang menghegemoni, FISIP tumbuh sebagai dirinya sendiri, melawan arus, sekalipun tak harus dilakukan secara terang-terangan. Ruang kuliah selalu marak dengan disukusi, pertanyaan-pertanyaan kritis selalu hadir setiap hari menjadi warna dari FISIP.

FISIP awal mulanya tak banyak dilirik mata dan dinilai sebagai disiplin yang kurang marketable, pelan-pelan berhasil membangun dan membuktikan dirinya bahwa disana memang ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang membanggakan dan patut dibanggakan.

Mahasiswa dan dosen FISIP ibarat mitra dan mereka mengembangkan hubungan yang egaliter, ketika fakultas lain akrab dengan konservatisme dan sikap feodal. Berawal dari kesederhanaan, tekad dan idealisme, FISIP ini sudah naik populer, berkembang menjadi ikon tersendiri di era reformasi. Yang disebut FISIP Universitas Airlangga sesungguhnya adalah sebuah komunitas ilmiah dan tradisi yang luas, tetapi tetap menjaga kekhasannya. Ucapan, pikiran dan tulisan bagi mahasiswa, dosen dan seluruh lulusan FISIP Universitas Airlangga ibaratnya adanya refleksi dari sikap kritis yang tak kan pernah terbeli oleh kekuasaan.

Ribuan lulusan FISIP Universitas Airlangga, kini boleh dikata telah merambah ke berbagai wilayah, merambah sendi-sendi kehidupan baru dan membangun tradisi-tradisi baru yang mereka warisi dari kampus almamaternya. Di desa-desa terpelosok, sebagian PLKB niscaya adalah Alumnus FISIP Universitas Airlangga. Dimedia massa, alumnus FISIP tak hanya menjadi reporter yang handal, redaktur senior yang disegani, tetapi juga sebagian menjadi Pemimpin Redaksi. Di jajaran Birokrasi, pioner yang motor penggerak dari berbagai kegiatan perencana, besar kemungkinan juga alumni FISIP. Pendek kata, apa yang telah dihasilkan dan di didik di “kampus orange” mereka umumnya selalu melampaui zamannya : pikiran mereka lebih maju, sikap mereka selalu lebih kritis dan bahkan tidak sedikit kemudian yang berani melawan arus.

Di usianya lebih dari 30 tahun, harus diakui FISIP kini telah berkembang jauh melampau berbagai harapan yang digagas di awal pendiriannya, dan bahkan telah menjadi ikon tersendiri dizaman reformasi. Banyak hal yang harus dicatat, disyukuri, ditinjau ulang dan direnungkan dengan sikap kritis dari keberadaan FISIP Unair. Di usianya yang semakin matang, FISIP Unair bukan saja menuntut dapat terus berkembang dan makin maju, namun juga diharapkan bersedia melakukan intropeksi : menoleh kembali ke masa silam dan kemudian bertekad sekuat tenaga untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Agenda

Indeks +