Rencana Kerjasama UNAIR-AUT Bidang Pertukaran Pelajar dan Penelitian Bersama

Surabaya – Humas | Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga pada hari Rabu 16 Maret 2016 lalu menerima kunjungan dari Lester Finch, Manajer Program Internasional dari Auckland University of Technology (AUT). Kedatangan Finch ke kampus FISIP adalah untuk membahas kemungkinan mahasiswa AUT untuk belajar di Universitas Airlangga dalam short course yang dirancang UNAIR. Selain itu, Finch juga membahas kemungkinan kerjasama kedua universitas dalam bidang riset dan publikasi ilmiah.

Sebagai universitas terbesar kedua di Selandia Baru, AUT berupaya menjalin mitra dengan Indonesia sebagai negara tetangga dalam kawasan Asia Pasifik. Selain Indonesia, AUT juga berencana mengirim mahasiswanya untuk menjalani program pertukaran di Vietnam dan Thailand. “Menjadi bagian dari kawasan yang terus berkembang secara sosial dan ekonomi, kami ingin menjalin hubungan baik dengan negara-negara tetangga di kawasan Asia Pasifik. Kami ingin mahasiswa kami merasakan pengalaman budaya lokal di Indonesia. Dapat dalam bentuk lagu daerah, tarian tradisional, budaya, dan kondisi sosial disini,” ujar Flinch. Menurutnya, Indonesia dan Selandia Baru memiliki latar belakang yang sama sebagai negara yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan menjunjung tinggi pluralitas dan keberagaman.

Sementara itu mengenai masalah publikasi, Flinch menyatakan kesediannya memberikan bantuan dalam mengembangkan publikasi UNAIR, dapat berupa pemberian seminar mengenai tata cara penulisan akademik ataupun kerjasama penelitian AUT-UNAIR. Menurutnya, membuat karya ilmiah dan mempublikasikannya di jurnal memang bukan tugas yang mudah. Diperlukan komitmen dan ketekunan dalam  menjalankan tugas ini. Harus diakui bahwa di Selandia Baru, mendorong akademisi untuk mempublikasikan tulisannya bukan hal yang sulit. Hal ini karena komitmen dari masing-masing penulis, didukung dengan insentif dan kemampuan penyampaian ide yang baik. Bagi Flinch, keterbatasan dalam Bahasa Inggris bukanlah penghalang utama dalam menciptakan publikasi ilmiah. “Hal yang paling penting bagi para penulis adalah bagaimana penulis memahami gambaran besar dari penelitian sebelum membahas hal yang terfokus, karena dengan cara itulah dapat di pastikan bahwa penulis benar-benar memahami apa yang dia tulis,” ujar Finch menutup perjumpaan. (Shafira Yasmine)

Agenda

Indeks +