Imam Yuadi, Dosen FISIP Universitas Airlangga yang Tekuni Digital Forensics

15 September 2017

 

Dosen Ilmu Informasi dan Perpustakaan (IIP), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Unair, Imam Yuadi menerima penghargaan bergengsi dari National Chiao Tung University (NCTU), Taiwan. Dia meraih PhD dengan status outstanding contribution award alias penghargaan atas kontribusi yang luar biasa.

Dengan latar belakang pendidikan ilmu sosial, niat Imam Yuadi tak surut untuk mengambil studi bidang sains atau ilmu pasti. Yang dipelajarinya adalah digital forensics. Perjalanannya pun berliku. Motivasi utamanya hanya satu. Ingin cepat lulus.

Imam harus beradaptasi dengan digital forensics yang merupakan rumpun ilmu komputer. Disertasinya yang mengusung judul Digital Forensics of Printed Sources Identification alias Proses Forensik Digital untuk Identifikasi Berdasar Sumber Cetakan dikejar dalam waktu lima tahun. Waktu yang relatif cukup singkat untuk studi doktoral di NCTU. Sebab, kata Imam, bisa masuk atau diterima di NCTU belum tentu bisa lulus dengan mudah. ”Universitas itu cukup susah keluarnya (lulus, Red),’’ ujarnya.

Di antara tujuh mahasiswa Indonesia yang sedang menjalani studi di sana, baru dua orang yang lulus. Salah satunya adalah Imam yang termasuk beruntung bisa lulus dengan cepat.

Studi di NCTU diterima Imam dari beasiswa. Saat itu yang tebersit dalam benak Imam adalah mendapatkan letter of acceptance (LoA) atau rekomendasi dari profesor jurusan yang dituju. Imam pun berhasil mendapat promotor.

Semula, dia membayangkan akan mengambil studi manajemen informasi. Tentu yang berkaitan dengan metode penelitian sosial dan statistika. Namun, perkiraan Imam meleset. Dia kaget bukan main. Ternyata kampus yang didatanginya kental dengan bidang elektro. Banyak mahasiswa yang berkecimpung di bidang digital forensics. Laboratoriumnya juga berkaitan dengan multimedia business application.

Sudah kepalang basah. Imam harus terus melaju. Mau tak mau, dia harus beradaptasi. Setidaknya Imam butuh waktu dua tahun untuk beradaptasi.

Jika boleh diibaratkan, NCTU adalah ITB-nya Indonesia. Banyak orang teknik yang berseliweran. Meski Imam sudah memilih departemen informasi manajemen, para dosennya berasal dari teknik elektro, teknik industri, dan ilmu komputer. ’’Stres dua tahun. Saya sangsi, bisa nggak ya mengikuti mata kuliah, terutama dari profesor saya,’’ katanya.

Pada dua tahun pertama, Imam harus mengambil mata kuliah sebanyak 38 SKS. Dia juga harus lulus ujian kualifikasi mata kuliah yang diambil dari empat profesor yang berbeda. Termasuk profesor yang membimbing Imam.

Sebenarnya suami Five Seodisa Adha Purnama Hidayat itu memilih profesor lain. Yakni, profesor yang menangani analisis statistik dengan data kuantitatif. Namun, tampaknya profesor tersebut kurang berkenan. Buktinya, tidak ada balasan yang masuk dalam e-mail Imam. ’’Yang balas e-mail saya ya profesor saya ini,’’ ucapnya.

Padahal, rupanya mahasiswa lain justru menghindari profesor tersebut. Sebab, selain bidang risetnya susah, orangnya termasuk tipe orang yang saklek. ’’Mahasiswa lain sudah tahu, sedangkan saya yang tidak tahu. Tapi, saya sudah telanjur memilih,’’ ungkapnya.

Pada dua tahun pertama itu, Imam mengakui betapa susahnya kuliah. Dia tidak menguasai ilmu sama sekali. Bahkan nol. Namun, dia tidak menyerah. Terus belajar. Dia mulai bisa mengikuti materi setelah tahun kedua. ’’Untuk ujian kualifikasi, saya ambil mata kuliah beliau (profesor, Red),’’ jelasnya.

Laki-laki yang mengajar di Unair sejak 1999 itu belum bisa memulai riset hingga tahun kedua. Sebab, dia masih harus banyak belajar. Baru pada tahun ketiga dia mulai bisa menulis. Termasuk mengikuti konferensi dan menulis jurnal.

Imam menyatakan, menulis jurnal di NCTU juga tidak mudah. Yang jelas harus masuk indeks Scopus, laman yang memuat referensi pustaka karya para ilmuwan dari seluruh dunia. Mahasiswa dituntut untuk menulis jurnal yang terindeks science citation index (SCI). Biasanya, jelas dia, yang terindeks di SCI juga terindeks di Scopus. ’’Meski tidak selalu,’’ tegasnya.

Ayah tiga anak itu memang harus menyesuaikan diri di kampus. Beruntung, iklim akademik di kampus memang sangat mendukung. Di lingkungan NCTU, terdapat science park.

Ada beberapa perusahaan teknologi informasi di belakang area kampus. Perusahaan dan kampus saling terkoneksi. Riset-riset di NCTU langsung dijual di perusahaan tersebut. Perusahaan memesan kepada para periset yang ada di kampus. Ibaratnya, kampus adalah tempat research and development (RnD) atau riset dan pengembangan perusahaan-perusahaan tersebut. ’’Seandainya Indonesia bisa begitu, akan bagus. Orang-orang kita nggak kalah lho,’’ tuturnya.

Laki-laki yang mengajar perpustakaan digital itu menjelaskan, disertasinya mengusung investigasi terhadap dokumen tercetak untuk menentukan jenis printer asli dengan menggunakan metode machine learning. ’’Digital forensics luas sekali. Saya fokus pada digital images, tidak tertutup kemungkinan ke digital voices,’’ terangnya.

Pemalsuan ijazah, misalnya. Sebuah dokumen ijazah bisa diketahui asli atau tidak secara cepat melalui digital forensics. Ada metode tertentu yang digunakan untuk mengetahui keaslian. Ketika sebuah gambar atau dokumen dicetak, printout yang digunakan bisa diidentifikasi.

Digitalisasi dokumen atau buku akan melalui proses scanning atau pemindaian. Saat dokumen tersebut bersifat terbatas dan hanya dimiliki instansi tertentu, dokumen serupa yang ada di kalangan luas patut dicurigai. Bisa jadi, ada kebocoran atau pemalsuan. ’’Ini bisa ditelusuri. Kaitannya dengan criminal law,’’ ungkapnya.

Alumnus S-2 Manajemen Teknologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember itu menyebut, meski sulit, dirinya punya motivasi tersendiri untuk segera menyelesaikan studi. Dia ingin cepat lulus. Apalagi, dia jauh dari keluarga dan kampung halaman. Momen terberatnya adalah tidak bisa melihat anaknya ketika mengikuti Olimpiade matematika pada 2016.

Selama studi dan riset, jalannya juga tidak mulus. Dia bahkan sempat dicaci maki oleh profesornya. Sebab, algoritma yang dibuatnya dianggap salah. Datanya dianggap overlapping. Padahal, overlapping sebenarnya sangat diperlukan sehingga informasi tidak hilang. ’’Menurut beliau salah. Padahal, jurnal sudah di-publish,’’ ujarnya.

Imam hanya diam saat ’’dihujat’’ profesornya. Sebab, dia juga menyadari belum memiliki materi pendukung yang memperkuat risetnya. ’’Percuma saya menyupervisi Anda kalau cara Anda begitu,’’ kata Imam menirukan profesornya. Mental Imam pun jatuh. Dia drop.

Meski sempat menyesal telah memilih profesor yang berlatar belakang teknik elektro, bukan Imam namanya kalau menyerah. Dia terus browsing tentang riset yang senada dengan risetnya. Dia berhasil menemukan satu jurnal. Jurnal itu menyebut bahwa pengambilan gambar atau image oleh si periset ternyata sama dengan yang dilakukan Imam. Imam pun mendapat angin segar. Dia lalu mempresentasikan hal tersebut.

Imam menjelaskan, metode overlapping juga bisa dilakukan untuk mengidentifikasi penyakit kanker paru-paru alias medical forensics. Data itulah yang lantas dijadikan rujukan. ’’Profesor saya akhirnya terdiam dan malah meminta saya mendalami kanker ini,’’ ungkapnya.

Selama penelitian, dia sering menghabiskan waktu di laboratorium untuk melakukan eksperimen. Bahkan hampir setiap hari selalu tidur di laboratorium dan jarang pulang ke asrama kampus. Menurut Imam, lantaran iklim pendidikan sudah terbentuk, menghabiskan waktu 24 jam di lab merupakan hal biasa.

Di lab, dia bisa mengerjakan program risetnya. Sebab, dibutuhkan waktu setidaknya 26 hari nonstop untuk menyeleksi data. Imam memang sedang membutuhkan waktu yang cepat. Jika data tidak di-update saat itu juga, dia akan kehilangan waktu.

Untuk menghilangkan stres, Imam mengisi waktu dengan melukis. Dia pun menghadiahi profesornya sebuah lukisan bergambar deburan ombak. Dia gemar melukis sejak duduk di bangku SMP. ’’Profesor saya senang saya beri lukisan,’’ katanya.

Selama studi, Imam menghasilkan delapan karya yang terpublikasi internasional. Di antaranya, empat jurnal internasional yang terindeks di science citation index (SCI) maupun Scopus. Juga, empat publikasi internasional pada konferensi Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) yang dipresentasikan di Seattle dan Arizona (USA), Lisbon (Portugal), serta Moskow (Rusia).

Ke depan, digital forensics tidak hanya dijadikan untuk bidang perpustakaan, tetapi juga bisa untuk bidang keilmuan yang lain. Misalnya, untuk bidang studi antropologi terkait dengan identifikasi kerangka manusia. ’’Diambil gambarnya, bisa diidentifikasi. Yang penting datanya. Sangat memungkinkan,’’ jelasnya. Bisa juga untuk linguistik, kedokteran, dan bidang sains lainnya.

Motivasi kuliah cepat, tampaknya, sudah menjadi semangat Imam. Ketika mengambil studi D-3 Program Studi Teknisi Perpustakaan Unair, Imam juga menempuhnya dalam waktu 2,5 tahun. Laki-laki yang lahir di Ponorogo, 4 Mei 1975, itu tidak ingin membebani orang tuanya kala itu. Dia juga hidup hemat dengan memasak sendiri dan membawa beras dari kampung. Dia berhasil menjadi lulusan termuda, tercepat, dan terbaik.

EDITOR : MIFTAKHUL F.S 

Sumber: https://www.jawapos.com/read/2017/09/15/157376/imam-yuadi-dosen-fisip-universitas-airlangga-tekuni-yang-digital-forensics

(*/c14/dos)