Peduli Kaum Perempuan, Dia Puspitasari Tembus Peringkat Dua Soetandyo Scholarship FISIP UNAIR 2016

09 Juni 2017

 

Menjadi mahasiswa tak semata-mata mengejar nilai di atas kertas dan kesuksesan pribadi, melainkan juga peduli kepada sesama. Semangat inilah yang dapat menggambarkan Dia, sapaan dari Dia Puspitasari selama masa-masanya menjadi mahasiswa Sosiologi di FISIP UNAIR. Karena berbagai pencapaian dan pengalaman organisasi yang peduli pada kaum masyarakat kecil, ia dianugerahi Soetandyo Scholarship pada ajang Penganugerahan Soetandyo Scholarship dan Soetandyo Award, Rabu (7/12/17) lalu.

Gak menyangka bisa dapat penghargaan ini dan berada di posisi kedua. Mengingat pesertanya ada ribuan dan jangkauannya nasional. Bahkan ada teman dari UNAIR yang lulusan terbaik, tetapi aku bisa berada di posisi kedua. Senang rasanya,” begitu aku Dia yang untuk pertama kalinya mengikuti ajang seleksi beasiswa ini.

Adapun pemberian Soetandyo Scholarship diberikan kepada 15 mahasiswa berprestasi yang telah berjasa membangun masyarakat sekitar seiring dengan nilai keteladanan Professor Soetandyo Wignjosoebroto, guru besar sekaligus pendiri FISIP UNAIR. Dia adalah salah satu dari finalis yang berhasil menembus proses seleksi dan penilaian yang ketat berkat proposalnya yang berfokus pada pergerakan perempuan.

“Di Rembang, terdapat dua desa yang merupakan kawasan Ring 1 dari PT. Semen Gresik. Masyarakat di sana menolak adanya pertambangan karena merusak alam, di mana alam itu adalah tempat untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Aku berkonsentrasi pada woman movement karena fenomena dampak lingkungan dan sosial yang timbul karena pertambangan itu. Misal, terjadi perceraian karena ada perbedaan kesepakatan antara suami-istri di mana istri menolak adanya pertambangan karena merusak alam, sedangkan suami setuju karena ada uang ganti rugi dalam jumlah besar.” jelas lulusan SMA Mahardika Surabaya ini mengenai pembahasan proposalnya yang berjudul ‘Potret Gerakan Perempuan Rembang’.

Saat ditanya mengenai sosok Prof. Soetandyo, Dia yang juga pernah menjuarai peringkat satu Lomba Orasi se-Jawa Timur itu mengungkapkan kekagumannya. “Walaupun tidak pernah diajar langsung oleh beliau,tapi aku membaca berbgai artikel dan karya-karyanya. Memang beliau pro terhadap kaum ‘akar rumput’. Beliau pernah mengatakan bahwa hukum yang ada di masyarakat itu bukan hanya legal-formal, tetapi melalui pendekatan humanis,” tuturnya yang pernah berpengalaman sebagai Koordinator Advokasi PKL dengan BEM FISIP ini.

FISIP UNAIR di tahun 2017 ini kembali membuka pendaftaran Soetandyo Scholarship yang akan memberikan apresiasi terhadap para mahasiswa yang sedang atau telah mengerjakan skripsi maupun tesis, untuk tema-tema yang berkaitan dengan ilmu sosial. Diharapkan dengan adanya Soetandyo Scholarship, para mahasiswa dapat meneladani nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh Prof. Soetandyo yang telah ditanam di FISIP UNAIR. (Demes)