Myrtati Dyah Artaria, Profesor FISIP UNAIR yang Raih Tiga Beasiswa Berturut-turut di Luar Negeri

14 Mei 2017

 

Surabaya – Humas | Selaku Wakil Dekan III FISIP UNAIR, Prof. Dra. Myrtati Dyah Artaria, M.A., Ph.D, menjadi sosok penting di FISIP UNAIR dalam bidang Kerjasama, Pengembangan, dan Sistem Informasi. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa di balik sosok dosen yang rendah hati tersebut, segudang prestasi dan beasiswa, baik nasional maupun internasional, telah diraih oleh Prof. Myrta sejak saat bangku SMA.

Maka dari itu, Andi Rizzki Kurniawati dari KIH FISIP UNAIR berkesempatan mewawancarai Wakil Dekan III inspiratif tersebut dalam rangka peringatan hari perjuangan perempuan pada 22 Mei silam.

Berikut petikan wawancaranya:

 

Bisakah Prof. Myrta ceritakan pengalaman paling menarik saat mendapatkan beasiswa?

Jujur, semua beasiswa yang pernah saya dapatkan semuanya menarik. Pada saat saya SMA, saya mendapatkan kesempatan untuk berangkat sebagai perwakilan Jawa Timur untuk studi di Amerika Serikat selama kurang lebih satu tahun. Beasiswa ini diberikan oleh American Field Service (AFS).

Setelah itu, saya juga mendapatkan dua beasiswa S2, baik dari AusAID dan juga Fulbright. Namun, saya memilih Fulbright baru melanjutkan S3 di Australia dengan AusAID.

 

Apa yang mengesankan dari pendidikan di luar negeri dibandingkan dengan pendidikan dalam negeri?

Menurut saya, pendidikan di dalam dan luar negeri sama-sama memiliki kesulitan tersendiri. Saya salut dengan para mahasiswa yang sekolah yang di dalam negeri. Kenapa? Karena sekolah di dalam negeri itu berat. Akses untuk jurnal-jurnal internasional terbatas dan di beberapa universitas, program S2 dan S3-nya belum tertata dengan baik, sehingga mempersulit mahasiswanya. Waktu yang diberikan dosen-dosen di sini juga masih belum terorganisir dengan baik. Waktu mereka dengan mahasiswa lebih terbatas.

Sedangkan di luar negeri, dosen-dosen S2 dan S3 memiliki jam kerja yang tetap dan mereka semua komitmen dengan jam tersebut. Jadi, mahasiswa bisa mengatur waktu untuk bertemu dan konsultasi perihal tesis dan disertasi. Di dalam negeri, mahasiswa harus cari-cari sendiri dosennya dan tidak sedikit dosen yang memiliki banyak kegiatan yang mendadak.

Namun, bukan berarti di luar negeri tidak ada kesulitan. Kesulitan di luar negeri adalah keharusan untuk pandai mengatur waktu karena semuanya tergantung disiplin diri masing-masing. Kalau di sini masih bisa ditagih dosen, “Mana tulisanmu, tugasmu sudah dikerjain atau belum?”. Kalau di luar negeri, harus ada targetnya, bacanya seperti apa, nilai juga yang menentukan diri sendiri. Selain itu juga ada kesulitan bahasa.  

Kalau di sini sudah bisa paham, terkadang mengantuk. Tapi kalau di luar, susah untuk bisa ngantuk. Sekali kuliah direkam, masih saja kesulitan memahami. Tahun pertama seperti itu yang saya alami. Skor tes bahasa Inggris sudah bagus, listening sudah bagus, tapi memang berbeda karena penggunaan academic english di luar negeri.

Target mereka dan kita juga beda, kalau saya kasih tugas baca, mahasiswa sering kali malah negosiasi. Kalau dikasih tugas di luar, ya harus. Kalo S2, setumpuk buku. Kalo diskusi harus bisa ngomong. Paling tidak, harus bisa setara dengan mahasiswa S2, harus bisa berargumen dan mengemukakan pendapat. Beratnya disitu, menyamakan diri dengan teman-teman di AS.

 

Apa tujuan yang ingin dicapai oleh Prof. Myrta baik di bidang akademis maupun pekerjaan?

Saya ingin tetap menulis. Hobi saya menulis. Sekarang, permasalahannya adalah mencari waktu untuk menulis. Menulis sendiri dapat digunakan untuk mendukung UNAIR dan membawa nama UNAIR, baik nasional maupun internasional. Sebagai seorang akademisi, memang sudah seharusnya menulis menjadi kegiatan utama, terutama menulis dalam jurnal ilmiah.

Itu yang ingin tetap saya jaga sampai saat ini. Ada pandangan bila sudah menjadi profesor, tidak perlu menulis lagi. Saya pribadi ingin tetep mempertahankan hal tersebut. Harus berjalan.

 

Bisa Prof. Myrta ceritakan bagaimana latar belakang penghargaan 100 peneliti perempuan terbaik versi Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan?

Dulu, ada surat dari kementerian yang dikirim ke universitas, lalu dari universitas disampaikan ke fakultas dan akhirnya sampai pada departemen. Intinya, mereka mencari siapa saja yang potensial untuk diajukan sebagai peneliti perempuan terbaik. Dari FISIP, ada beberapa departemen yang mengirimkan nama-nama dosen.

Ketika nama saya ada dalam daftar tersebut, saya harus mengumpulkan berbagai persayaratan, antara lain Curriculum Vitae (CV), esai, dan lampiran-lampiran pendukung CV, seperti sertifikat beasiswa, prestasi, laporan peneilitian, dan semuanya harus lengkap. Nah, setelah itu diseleksi oleh kementerian secara nasional. Ada pengurutan 100 nama dan sebelum itu ada proses verifikasi melalui surel.

 

Apa tujuan yang ingin dicapai Prof. Myrta berkaitan dengan jabatan sebagai Wakil Dekan III FISIP UNAIR?

Banyak orang yang tidak biasa menulis artikel. Saya merasa mindset tersebut harus diubah. Menulis artikel itu sebenarnya tidak sulit, kalau tahu tekniknya. Saya ingin menggugah semangat baik mahasiswa maupun dosen-dosen FISIP UNAIR. Dosen-dosen mempunyai kesibukan meneliti, cuman sayangnya hanya berupa laporan penelitian, belum sempat dijadikan artikel atau jurnal ilmiah. Selain itu para dosen biasanya mempunya berbagai kesibukan, baik sebagai konsultan, pembicara, maupun narasumber di media televisi.

Kalau di luar negeri, menulis itu diprioritaskan. Para dosen FISIP sebenernya bisa banget untuk menulis dan sekarang juga telah ada bantuan dari fakultas maupun universitas yang mendukung penuh. Saya ingin mengangkat mereka ke dunia tulis meulis dan menghasilkan karya. Selain itu, jalinan kerjasama dengan peneliti dari luar negeri. FISIP punya banyak potensi untuk itu, hanya saja kurang digali.

 

Bagaimana peran keluarga dalam karir dan prestasi Prof. Myrta  selama ini?

Peran keluarga besar sekali. Semua berawal dari kebiasaan di keluarga, seperti halnya kebiasaan menulis dan membaca. Ibu saya suka menulis, membaca, dan mendengarkan musik. Ada sisi yang diwariskan dari Ibu saya. Dukungan Ibu juga sangatlah besar, termasuk saat mendapatkan beasiswa. Mendoakan, menyemangati, bahkan membantu fotokopi. Pada saat itu belum zamannya paperless.

Waktu saya ngajar juga, anak saya masih kecil, jadi Ibu yang menemani anak saya. Dukungan juga diberikan oleh suami saya, kalau dia tidak rela, saya tidak bisa seperti ini. Dia rela saya S3 ke luar negeri duluan, termasuk ketika saya mendapatkan gelar profesor. Misal membawa berkas-berkas ke Jakarta, juga saat belum ada pengumuman. Dia selalu mendoakan dan bantu mencari informasi. Anak saya juga pengertian, misal waktunya libur, dia senang kalo dibawa ke kampus untuk baca-baca buku.

 

Apa pesan dan saran Prof. Myrta terhadap para perempuan Indonesia terkait dengan peringatan hari perjuangan perempuan bulan lalu?

Pesan dan saran untuk perempuan-perempuan Indonesia, bahwa perempuan setara dengan gender mayoritas lainnya, yaitu laki-laki. Keduanya saling mengisi. Jadi, misal salah satu menghambat, tetaplah maju untuk mengisi segala yang dapat dikerjakan, di perkantoran, perusahaan, maupun tempat lainnya. Semuanya pasti ada porsi-porsi yang diperuntukkan untuk setiap gender.

Otak kedua gender memang berbeda. Di lingkup pekerjaan juga ada yang lebih cocok untuk perempuan, ada yang lebih cocok laki-laki. Contohnya saja pemikiran laki-laki lebih global, sedangkan perempuan lebih detail. Namun, bukan berarti perempuan dan laki-laki mempunyai kapastias yang berbeda. Semua perempuan harus sadar apabila mereka dibutuhkan oleh seluruh sektor, baik pemerintah, perusahaan, bahkan dunia. (CAY / QQ)