FISIP Menjadi Tuan Rumah Bedah Buku Pembangunan Berkelanjutan Karya Gus Ipul

20 Desember 2017



Surabaya-Humas | Wakil Gubernur Jawa Timur, Drs. H. Saifullah Yusuf kembali mengunjungi Universitas Airlangga, kali ini dengan khusus menghadiri acara bedah buku yang bertempat FISIP UNAIR. Rabu (20/12), Bedah buku karya Drs. H. Saifullah Yusuf dengan judul “Perubahan Berkelanjutan”merupakan acara yang digagas oleh PUSPEK (Pusat Kajian Pembangunan dan Pengelolaan Konflik) milik Departemen Politik FISIP UNAIR.

Dimulai pukul 08.00 dan bertempat di Ruang Adi Sukadana gedung A FISIP UNAIR, acara dihadiri langsung oleh Drs. H. Saifullah Yusuf sebagai keynote speaker. Selain itu, acara bedah buku juga dihadiri oleh dua pembicara lain, yakni Prof. Dr. Luthfiyah Nurlaela, M.Pd  dari UNESA dan Dr. Rubaidi M.Ag  dari UINSA, serta dimoderatori oleh seorang dosen muda departemen administrasi negara FISIP UNAIR Agie Sugiono.

Setelah dibuka oleh moderator, kemudian Prof. Dr. Luthfiyah Nurlaela, M.Pd  mulai menuturkan tentang buku Perubahan Berkelanjutan. Beliau menjelaskan bahwa Buku karya Drs. H. Saifullah Yusuf ini berisikan refleksi Beliau selama 10 tahun menjabat sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur.

Diskusi bedah buku yang dihadiri oleh lebih dari 30 orang ini berlangsung menarik. Para peserta bedah buku silih berganti menanyakan perihal substansi isi buku yang dikaitkan kepada kenyataan maupun situasi sosial yang terjadi. Salah satu isi bagian isi buku yang memantik diskusi menarik ialah mengenai Indeks Pembangunan Manusia (IPM), yang dibahas oleh Gus Ipus (sapaan untuk Drs. H. Saifullah Yusuf) pada bagian pertama atau awal buku. Dimana IPM disebutkan sebagai salah satu fokus dari Gus Ipul selama 10 tahun terakhir menjabat sebagai Wakil Gubernur.

Prof. Dr. Luthfiyah Nurlaela, M.Pd  menjelaskan, salah satu faktor dari naiknya Indeks Pembangunan Manusia yang diusahakan oleh Gus Ipul ialah angka melek huruf, dimana pemerintahan beliau berhasil meningkatkan angka dalam indicator tersebut. Pertanyaan muncul dari salah satu peserta mengenai sebenarnya apa saja diluar tersebut yang bisa diusahakan untuk meningkatkan IPM, yang dijawab oleh Dr. Rubaidi M.Ag. Dr Rubaidi menjawab bahwa yang harus diperbaiki ialah soft skill. “Letak kelemahan Indonesia selama ini ialah menyusun kurikulum yang mempertemukan tuntutan pihak swasta mengenai alumni yang ideal” ujar Dr. Rubiadi. Beliau mengusulkan bahwa seperti yang sudah dilakukan oleh beberapa universitas swasta, universitas negeri juga akan lebih baik jika memiliki mata kuliah-mata kuliah yang memperkenalkan bisnis praktis kepada mahasiswa sejak dini.

Agenda

Indeks +