Adakan Kuliah Umum, FISIP UNAIR Undang Mantan Menko Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya

06 Oktober 2017

 

Surabaya - Humas | FISIP UNAIR kembali mengadakan kuliah umum dengan pembicara Dr. Rizal Ramli, Mantan Menko Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Indonesia pada Jumat (6/10). Bertemakan “Potensi Ekonomi Indonesia dalam Membangun Bangsa secara Mandiri”, Dr. Rizal Ramli memulai perkuliahan dari pukul 13.30 hingaa 15.00 WIB. Dalam acara yang diselenggarakan di Aula Soetandyo Gedung C FISIP UNAIR tersebut, Prof. Budi Prasetyo, M. Si. selaku Wakil Dekan I menyambut hangat Dr. Rizal Ramli sebagai pembicara dan para akademisi yang terdiri dari dosen, mahasiswa, hingga peneliti. Kuliah Umum Dr. Rizal Ramli dihadiri lebih dari tiga ratus orang peserta yang antusias mengikuti pemaparan materi kuliah. Kuliah umum ini dimoderatori oleh Bustomi Menggugat, S. Hub. Int. yang merupakan salah satu alumnus prodi Hubungan Internasional FISIP UNAIR.

FISIP secara berkelanjutan mengadakan berbagai kuliah umum untuk menambah wawasan mahasiswa. Kuliah umum kali ini, berkaitan langsung dengan mata kuliah Bisnis Internasional milik jurusan Hubungan Internasional dimana peserta mata kuliah diwajibkan turut berpartisipasi dalam kuliah umum Dr. Rizal Ramli. Tidak hanya mahasiswa FISIP UNAIR, peserta kuliah umum juga datang dari beberapa universitas lain, seperti Universitas Dr. Soetomo dan Universitas Muhammadiyah Surabaya.

Dalam kuliahnya Dr. Rizal Ramli menyatakan “Setidaknya terdapat tiga faktor mengapa suatu negara, khususnya Indonesia, tidak memiliki perekonomian yang maju. Faktor pertama adalah korupsi dari para pejabat negara, yang kedua adalah kurangnya pengelolaan sumber daya manusia, dan yang ketiga adalah model pembangunan ekonomi yang berasal dari hutang”. Pada penghujung kuliah umumnya, Dr. Rizal Ramli mengatakan bahwa cara yang paling kuat untuk membangun negara adalah kebijakan terobosan yang tidak melulu meminjam hutang. 

Di akhir pemaparan materi, Dr. Rizal Ramli yang akan memasuki umur 63 tahun bulan desember mendatang, menyatakan bahwa Indonesia tidak seharusnya mengikuti semua saran dan rekomendasi yang diajukan oleh World Bank. Negara-negara yang maju dalam perekonomiannya, tidak selalu maju karena hutang luar negeri. Beliau mengambil contoh Jepang dan Tiongkok adalah negara yang sukses untuk mengaplikasikan kebijakan ekonomi yang sesuai dengan kondisi negara masing-masing.

“Perekonomian Indonesia masih perseneling satu, mau ngegas terus juga tidak bisa lebih dari 30km/jam. Di sisi lain, Indonesia masuk ke dalam Austerity Trap yang mengharuskan untuk memotong anggara untuk membayar hutang. Sehinga, Indonesia seharusnya tidak terlalu manut dengan model pembangunan World Bank” ujar Menteri Keuangan Indonesia ke-23 sembari menutup perkuliahan. (NIK/CAY)