Kritisi Radikalisme, BSO Penalaran FISIP Adakan Diskusi dan Bedah Buku Khilafah

29 September 2017

 

Surabaya - Humas | FISIP UNAIR sebagai fakultas yang dinamis, selalu memberi wadah dan dukungan terhadap diskusi diskusi kritis yang digagas oleh mahasiswa maupun staf pengajar. Kali ini, Jumat (29/9) terdapat acara dengan tajuk “Diskusi dan Bedah Buku Khilafah” diprakarsai oleh Badan Semi Otonom (BSO) Penalaran FISIP UNAIR. Tidak hanya diskusi, pameran buku dengan berbagai temapun menghiasi penyelenggaraan acara. 

Berangkat dari isu mengenai radikalisme yang sedang hangat dibicarakan belakangan ini, dimana banyak mahasiswa atau mahasiswi yang juga terjerumus dalam gerakan gerakan radikal, BSO Penalaran FISIP berupaya memberi ruang diskusi yang sesuai. Tujuannya, adalah pemahaman yang lebih mendalam mengenai radikalisme dan bahaya yang dikandungnya.

Dibuka oleh sambutan Wakil Dekan I FISIP UNAIR, Prof. Dr. Budi Prasetyo M.Si., diskusi ini mengambil tempat di Aula Soetandyo Gedung C FISIP UNAIR. BSO Penalaran mendatangkan empat pembicara yang mumpuni dalam bidangnya, yakni Dosen Pascasarjana UIN Surabaya, Dr. Ainur Rofiq al-Amin sebagai, Pengamat Politik Islam dan Timur Tengah, Mohammad Nuruzzaman, Penulis Buku Kontroversi Dalil-Dalil Khilafah, Muhamad Sofi Mubarok, SH.I, M.H.I, Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Airlangga Joko Susanto, S.IP, MSc.

Tidak hanya dari mahasiswa-mahasisiwi FISIP UNAIR, Diskusi dan Bedah Buku Khilafah ini juga dihadiri oleh rekan-rekan mahasiswa dari universitas lain sekitar Surabaya dan Sidoarjo, seperti halnya ITS, PENS, dan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Diskusi ini berjalan cukup serius, dimana dalam empat jam diskusi berlangsung, peserta diskusi aktif terlibat dalam tanya jawab mengenai berbagai argumentasi yang disampaikan pembicara mengenai radikalisme dan khilafah.  Salah satu pembicaraan yang menarik, ialah gagasan dari Dr. Ainur Rofiq Al-amin. Menurutnya, ada kemungkinan bahwa banyaknya mahasiswa yang terjun dalam organisasi radikal ialah ekspresi lanjutan terhadap represi rezim Soeharto. “Pada tahun 1990-an, represi dilakukan secara masif oleh Orde Baru. Mahasiswa yang memiliki ketertarikan kepada Islam, mendapatkan ketertarikan tersendiri terhadap Islam yang pada ujungnya mengarah pada radikalisme berbasis kekhalifahan. Dianggap sebagai sebuah alternatif atas kondisi Orde Baru,” ujarnya. (NIK/CAY)