Diskusi Reboan FISIP UNAIR Ajak Mahasiswa Kritisi Pemberitaan Media

06 September 2017

 

Surabaya – Humas | Hari Rabu selalu jadi momentum khusus bagi FISIP untuk melaksanakan forum diskusi. Kegiatan rutin yang disebut Diskusi Reboan ini sudah menjadi budaya FISIP. Pada Rabu (6/9), diskusi dilaksanakan di Taman Demokrasi Gedung A FISIP UNAIR dengan dihadiri sekitar 25 mahasiswa yang berkumpul dan duduk membentuk lingkaran. 

Forum ini dimulai pukul 10.00 WIB dibuka oleh moderator yang merupakan Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNAIR 2015, Robbyan Abel R. Diskusi ini mengangkat topik Gerakan Radikalisme dalam Era Media Massa. Pembicaranya pun juga seseorang yang tak jauh dari dunia jurnalistik dan ia juga merupakan Dosen Ilmu Komunikasi UNAIR, Rendy Pahrun Wdipala, S. Ikom., MA.

Dosen yang akrab disapa Mas Rendy itu menjelaskan, bahwa sebenarnya radikalisme sudah ada sejak lama sejak adanya suatu negara. Radikalisme yang kini kian muncul jika kita sadari adalah akumulasi akhir dari zaman orde baru. Namun yang sering kita dengar mengenai aksi radikalisme adalah berkaitan dengan agama. Inilah yang membuat diskusi semakin menarik, karena Indonesia masih hangat dengan aksi-aksi fanatik para ormas.

Peserta saling berpendapat mengutarakan persepsi dan pemahaman masing-masing. Beragamnya peserta diskusi dari masing-masing jurusan membuat beragam pula perspektif mereka. Namun berdasar arah pembicaraan, mereka kembali menitik beratkan dengan nasib pada era  media massa terhadap keadaan demikian. Media semakin liar dalam menayangkan pemberitaan dengan asas tujuan tertentu. Karena regulasi dalam dunia jurnalistik semakin terabaikan. Pembahasan ini juga memancing sikap kritis para mahasiswa.

Namun  pembicara akhirnya menengahi perdebatan ini. Ia mengatakan bahwa dengan keadaan yang demikian itulah mengapa kita harus mengetahui Media Literasi. Informasi menjadi hal yang menyeramkan jika disakah artikan. Bahkan informasi yang disimpan sendiri itu juga berbahaya. Iapun memberi masukan kepada mahasiswa untuk sering berdiskusi dan bertukar informasi. Perlu disadari media memiliki kadar objektivitas tertentu. Sehingga kita kita harus jeli dan berhati-hati. Seperti contoh, dengan kian maraknya berbagai aksi gerakan agama yang kerap masuk dalam isu-isu nasional juga bisa jadi menjadi platform mereka agar diakui masyarakat.

Oleh karena itu, kegiatan diskusi seperti ini sangatlah didukung oleh para Dosen akademik. Para mahasiswa dapat menyaring informasi dengan bertukar pikirian seperti ini.  Dan tentu rupanya dapat mengasah kebiasaan pola pikir kritis mahasiswa FISIP dari berbagai bidang ilmu. Diskusi Reboan yang rutin digelar ini sangat ditunggu-tunggu para mahasiswa. Karena mereka merasa, Diskusi Reboan benar-benar menjadi wadah mahasiswa berekspresi dan berpendapat. Mereka bisa bertukar pikiran dan meng-upgrade pengetahuan.  (RVN/CAY)