Bahas Keunikan Tradisi Batak, Corry Berhasil Raih Gelar Doktor

11 Juli 2017

 

Surabaya – Humas | Ujian Doktor Terbuka kembali berlangsung pada Senin (10/7) di ruang Adi Sukadana Gedung A FISIP UNAIR. Pada kesempatan ini, yang diuji adalah Promovenda Corry, Dra., M.Si. Beliau adalah mahasiswa S3 angkatan 2012/2013 yang berasal dari Medan, Sumatra Utara. Mengangkat kearifan lokal yang dimilikinya, topik disertasi yang ditelitinya adalah tentang salah satu tradisi suku Batak. Disertasinya berjudul ‘Fenomena dan Makna Pembangunan Tugu (Tambak Na Timbo) dalam Kehidupan Suku Batak Toba (Studi Kasus di Kecamatan Pangururan dan Kecamatan Palipi Kabupaten Samosir’. Disertasi Promovenda Corry ini mendapat apresiasi dari para penyanggah berkat topiknya yang menarik dan concern tradisi objek penelitian yang masih berlangsung hingga sekarang.

Ujian Doktor Terbuka ini dimulai pada pukul 10.00 WIB dengan lantunan Hymne Airlangga yang berlangsung khidmat. Acara dilanjutkan dengan pembukaan oleh  Pimpinan Sidang Ujian Doktor terbuka yaitu Prof. Dr. Budi Prasetyo, Drs., M.Si.  Dalam sidang ini, terdapat sembilan penyanggah, yakni Prof. Dr.Hotman M. Siahaan Drs., MA. selaku Promotor, Prof. Dr. Ibnu Hajar Damanik, M.Si. selaku Ko. Promotor. Sedanngkan penyanggah lainnya adalah Prof. Dr. Musta’in, Drs., M.Si., Prof. Dr. I. B. Wirawan, Drs., S.U.,  Prof. Dr. Budi Prasetyo, Drs., M. Si., Prof. Dr. H. Widi Hidayat, SE., M.Si., Ak.CA, CMA , Prof. Dr. H. Setya Yuwana, MA., Dr. Santi Isnaini, S.Sos., MM., dan Dr. Phil. Siti Rokhmawati Susanto, SIP., MIR.

Berkat bekal ilmu dan dedikasi yang ditempuhnya selama di FISIP, Promovenda Corry mampu menjawab seluruh pertanyan dari para penyanggah maupun dari audiens akademisi. Dalam Ujian Doktor Terbuka ini, ia telah menghasilkan suatu temuan yang mengkritisi suatu fenomena. Dalam disertasinya, ia berfokus mengenai makna religi dan budaya terhadap tugu atau patung yang ada di tiap-tiap rumah dilokasi penelitian. Kekentalan tradisi Batak yang begitu menghormati roh leluhur ini membuat peneiliti tertarik untuk mengkritisi fenomena tersebut. Tugu-tugu yang kokoh menandakan mereka tidak takut mati, bahkan mereka mempersiapkan tempat kematiannya sebagus mungkin.

Lebih lanjut, implikasi dari penelitian dan penemuan oleh Promovenda Corry ini utamanya adalah untuk masyarakat. Ia berharap pembangunan tugu yang selama ini dilakukan dan membutuhkan biaya milyaran dapat direlokasi dengan pembangunan yang lebih esensial dan bermanfaat, seperti sekolah, rumah sakit, atau lainnya.

Dalam disertasinya ini, ditemukan bahwa tugu-tugu yang terdapat di suku Batak Toba ini menimbulkan dampak positif dan negatif. Dampak positif dapat dilihat dari potensi tradisi melalui simbol tugu terhadap kemajuan pariwisata dan kepuasan terhadap masyarakat suku Batak itu sendiri. Namun di sisi lain, ada juga beberapa anggota masyarakat yang menentang dengan landasan azas agama. Pro dan kontra inilah yang membuat Promovenda Corry tertarik untuk melihat pemaknaan simbol tugu ini. Sebagai kaum akademisi di bidang sosial, disertasinya ini diharapkan mampu memberikan sumbangsih pemikiran kritisnya terhadap fenomena tersebut.

Ujian Doktor Terbuka ini berakhir dengan kebahagiaan atas pengumuman gelar Doktor yang resmi diperoleh Promovenda Corry dengan predikat sangat memuaskan. Sebagai institusi pendidikan, FISIP UNAIR sekali lagi telah membuktikan dedikasi dan konsistensinya dalam melahirkan seorang Doktor yang siap untuk berdedikasi untuk ilmu pengetahuan dan pendidikan bangsa dan negara. Acarapun diakhiri dengan berfoto bersama dan ramah tamah. (RVN/VET)